PERTAMINA BANGUN TERMINAL BBM DI SAMBU DAN TANJUNG UBAN

Kilang Minyak Pertamina

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan, didampingi komisaris utama yakni Sugiharto, Direktur Pemasaran dan Niaga, Hanung Budya, serta Gubernur Kepri, M Sani, meresmikan groundbreaking proyek pengembangan Terminal BBM (TBBM) untuk depo Pulau Sambu dan Tanjunguban di Pertamina Sambu, Rabu (12/2) siang sekitar pukul 11.30 WIB.

Untuk TBBM Pulau Sambu, Pertamina akan membangunan Terminal Atutomation System serta blending untuk produk solar dan MFO berstandar internasional.

Harapannya meningkatkan kapasitas TBBM hingga mencapai 300 ribu kiloliter dengan dermaga berkapasitas LR 100 ribu DWT.

Sedangkan untuk di TBBM Tanjunguban, Pertamina akang membangun tanki timbun dengan kapasitas sebesar 200 ribu kiloliter lengkap dengan Terminal Automation System dan dermaga baru berkapasitas LR 100 ribu DWT. Pun fasilitas blending migas yang dapat meningkatkan fleksibilitas pembelian impor produk Premium atau HOMC 92 DAN Caphta.

“Saya berharap banyak kepada PT Wika selaku yang membangun kedua depo TBBM di Kepri agar bisa menyelesaikan pembangunannya paling lambat 2016,” ujar Dirut Pertamina saat memberikan sambutan kepada tamu undangan yang hadir, Karen Agustiawan.

Sementara, Hanung Budya, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Pusat mengatakan TBBM Sambu sangat bersejarah karena sudah ada sejak 1918 akan menjadikan Pertamina memasuki babak baru sebagai Storage and Belending Facility Provider.

TBBM Pulau Sambu nantinya akan dimanfaatkan oleh Pertamina Energy Services (PES) sebagai sinergi Pertamina dengan anak perusahaan untuk mendukung bisnisnya menjadi oil trader di wilayah regional Asia Tenggara.

Pembanguan kedua TBBM yakni Tanjunguban dan Sambu menurut Hanung untuk mencapai visi Asian Energy Champion 2025 meningkatkan kinerja agar dapat berada sejajar dengan perusahaan kelas dunia. Salah satunya, ya, pembangunan infrastuktur di TBBM.

Untuk TBBM Pulau Sambu pembangunan infrastruktur  akan menelan dana hingga 94 juta US Dollar. Sedangkan untuk TBBM Tanjunguban menelan biaya lebih kecil daripada TBBM Sambu yakni 60 juta US Dollar.

Pengembangan TBBM Sambu dan Tanjunguban merupakan bagian dari tujuh proyek infrastruktur hilir migas dengan nilai total 340 juta US Dollar yang akan dapat menyokong perseroan dalam upayanya menjadi pemain utama bisnis niaga mias di tingkat regional menuju visi Asian Energy Champion 2025.

Selain TBBM Pulau Sambu dan Tanjunguban, ada Terminal LPF Panjang Lampung, Kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) buatan Hyundai Korea selatan berkapasitas 84 ribu cubic metric atau setara dengan 50 ribu ton LPG, dengan panjang kapal mencapai 225,8 meter yang merupakan terbesar di dunia.

Kapal VLGC ini merupakan bagian dari rencana penambahan armada milik Pertamina untuk memperkuat jumlah armada kapal milik Pertamina, khususnya tipe LPG carrier untuk meningkatkan efisiensi dan memperlancar distribusi LPG ke seluruh wilayah Indonesia serta meningkatkan posisi tawar Pertamina di antara para ship owners.

Selanjutnya adalah tiga proyek Depo Pengisian Pesawat Udara (DPPU) di tiga lokasi bandara Internasional, yaitu DPPU Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, DPPU Hassanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, dan DPPU Bandara Internasional Lombok, Mataram, NTB. Ketiga proyek pembangunan DPPU tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan bisnis penjualan Avtur Pertamina dalam dunia penerbangan nasional maupun internasional.

“Kami ingin mengembalikan kejayaan TBBM Sambu dan Tanjunguban seperti semula. Kalau proyek pembangunan ini berjalan lancar maka, dampaknya juga akan menyerap tenaga kerja di pulau sekitar yakni Belakangpadang,” ujar Dirut Pertamina mengakhiri. (gas – BatamPos, Pic Credit Republika)

BANGUN PABRIK PULP TERBESAR DI INDONESIA, APP DAPAT PINJAMAN USD 1,8 MILIAR

Pabrik Pulp & Paper

JAKARTA – APP, melalui PT OKI Pulp & Paper Mills mendapatkan pinjaman kredit investasi dari China Development Bank (CDB) sebesar USD1.8 miliar untuk pembangunan pabrik pulp terbesar di Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Penandatanganan pinjaman kredit investasi dilakukan di depan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden China  Xi Jin Ping, di Jakarta dalam acara Bisnis Luncheon  Indonesia – China, Kamis 3 Oktober 2013. Nilai investasi untuk membangun pabrik pulp adalah USD2,6 miliar, dengan rincian 70 persen atau sekitar USD1,8 miliar didanai oleh pinjaman dari CDB dan sisanya 30 persen atau sekitar USD800 juta merupakan modal dari pemegang saham.

Di samping itu, akan dikembangkan juga industri kertas tisu dengan investasi senilai USD500 juta, sehingga total investasinya akan mencapai USD3 miliar.  Hal ini tentunya mencerminkan kepercayaan dari pemerintah dan perbankan RRC terhadap industri di Indonesia.

“Pembangunan pabrik PT. OKI Pulp & Paper Mills merupakan bagian dari upaya kami untuk mendukung tujuan Pemerintah Indonesia menjadikan industri pulp dan kertas menjadi pemain global, sekaligus mendorong pengembangan industri yang ramah lingkungan. Untuk itu, kami berinvestasi melalui teknologi terkini dan mengadopsi praktik terbaik untuk memastikan standar keberlanjutan tertinggi, ” ujar Chairman APP, Teguh Ganda Wijaya dalam pada keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (3/10/2013).

Pemerintah Indonesia telah menargetkan industri pulp dan kertas sebagai salah satu industri prioritas di dalam Kebijakan Industri Nasional, dan mengharapkan Indonesia menjadi produsen lima besar dunia pada tahun 2025, hal ini sejalan dengan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Sementara itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, Pulp dan kertas adalah bagian dari fondasi ekonomi Indonesia. Dirinya yakin sektor ini dapat berkembang dengan baik untuk kemudian memberikan banyak keuntungan kepada masyarakat Indonesia sembari melindungi hutan kita.

“Kami menyambut baik kerjasama yang dilakukan dengan China Development Bank, pembiayaan yang diberikan tersebut akan dapat mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi Indonesia,” ujar Gita.

PT OKI Pulp & Paper Mills direncanakan memiliki kapasitas produksi sebesar 2 juta ton pulp dan 500 ribu ton tisu per tahun. Seperti halnya dengan semua pabrik di bawah naungan APP, PT OKI Pulp & Paper Mills menerapkan kebijakan tanpa deforestasi dengan standar kelestarian lingkungan yang tinggi, dimana produksi hanya menggunakan bahan baku dari Hutan Tanaman Industri. Sementara itu, Direktur APP Suhendra Wiriadinata mengatakan, APP akan menerapkan zero deforestation. “Kami berkomitmen menerapkan zero deforestation dalam rantai pasokan, atau 100 persen bahan baku berasal dari HTI,” ujar Suhendra.

Pabrik baru ini diperkirakan akan membuka lapangan pekerjaan untuk 10 ribu tenaga kerja baru. PT OKI Pulp & Paper Mills diproyeksikan dapat  meningkatkan ekspor Sumatera Selatan cukup signifikan. Investasi ini juga dinilai strategis karena dua alasan utama,  pertama, pembangunan pabrik termasuk infrastruktur pendukung akan meningkatkan akses ke kawasan ini yang sebelumnya relatif terpencil. Kedua, masyarakat lokal bukan hanya memiliki kesempatan untuk bekerja disana tetapi juga memiliki kesempatan untuk bermitra dengan PT. OKI dalam upaya mengembangkan kegiata usaha. Artinya, potensi multiplier effect dari keberadaan PT OKI sangat besar. (Fakhri Rezy – Okezone, Pic Credit Jakarta Post)